Sejarah Lahirnya Kota Solo (Surakarta)

131 views

Sejarah Lahirnya Kota Solo Keraton Kesunanan Surakarta lahirnya kota Solo atau disebut juga dengan Surakarta erat kaitannya dengan zaman kerajaan Jawa dan VOC. Nama kota Solo bermula dari kerajaan Jawa yaitu kerajaan Mataram (dengan keraton bernama Kartasura) yang kala itu mengalami kerusakan berat karena perang antara Sunan Pakubuana II (PB II) dengan Sunan Kuning yang terjadi pada tahu 1742. Berkat bantuan Belanda (tentara VOC) akhirnya keraton Kartasura dapat diambil alih kembali oleh Sunan Pakubuana II. Bantuan VOC tersebut ternyata tidak gratis sebab Baginda Sunan Pakubuana II harus merelakan sebagian wilayah Mataram untuk dikuasai oleh VOC.

Akibat dari pemberontakan Sunan Kuning, kesaktian Keraton Kartasura dinilai mulai hilang sehingga berpengaruh pada kewibawaan raja. Berawal dari hal tersebut maka Sunan Pakubuana II mengutus beberapa narapraja (pegawai istana) untuk mencari tempat baru yang nantinya dijadikan pusat pemerintahan. Setelah sekian lama mengembara akhirnya para utusan menemukan 3 lokasi yang memenuhi kriteria sebagai pusat pemerintahan yaitu Desa Sana Sewu, Desa Kadipala, dan Desa Sala. Setelah dimusyawarahkan akhirnya Sunan Pakubuana II memilih Desa Sala sebagai pusat pemerintahan kerajaan Mataram. Tak lama kemudian Keraton Kartasura berpindah ke Desa Sala yang oleh Sunan Pakubuana II diberi nama Surakarta Hadiningrat.

Sala Menjadi Solo

Sejarah lahirnya kota Solo juga erat kaitannya dengan tokoh panutan masyarakat Desa Sala yang berubah nama menjadi Surakarta Hadiningrat. Konon sejak kepindahan Keraton Kartasura, pusat pemerintahan kerajaan Mataram dikendalikan dari Desa Sala atau Surakarta Hadiningrat. Di Desa Sala hidup seorang Kyai yang cukup berpengaruh di wilayah tersebut yaitu Kyai Sala. Dari nama Kyai itulah nama Solo disebut-sebut berasal.

Meskipun Surakarta Hadiningrat atau Sala (menggunakan huruf “a”) namun seiring berjalannya waktu nama tersebut berubah dan orang lebih suka menyebutnya dengan Solo (menggunakan huruf “o”). Konon hal ini disebabkan kesalahan lidah orang Belanda yang kesulitan menyebut “Sala” hingga kemudian menyebutnya “Solo”. Lama kelamaan masyarakat lokal juga terbiasa dengan kata ”Solo”. Nama Solo sendiri semakin populer, bahkan nama baru Surakarta Hadiningrat yang diberikan oleh Sunan Pakubuana II seperti kalah pamor. Kondisi tersebut konon dipicu oleh sikap Sunan Pakubunan II yang lebih pro-kolonial. Intinya nama “Surakarta” maknanya lebih identik dengan watak kekuasaan dan kapitalis. Sedangkan nama “Solo” lebih pro-rakyat (tercermin dari nama Kyai Sala sebagai tokoh yang memihak rakyat).

Bagi masyarakat Solo sendiri, sejarah lahirnya kota Solo atau Surakarta dan arti nama yang berbeda tersebut tidak menimbulkan persoalan apapun. Nama Surakarta juga diterima sebagai bentuk penghormatan pada Sunan Pakubuana II sebagai tokoh pendahulu, terlepas apapun sikapnya apakah seorang pro-kolonial, kapitalis, dan sebagainya. Yang pasti nama Solo maupun Surakarta selalu hadir beriringan dan saling berhubungan. Hubungan yang mencerminkan keharmonisan antara rakyat dan pemimpinnya, dimana pemimpin harus menjalankan amanat sebagai figur yang bisa mengayomi rakyat.

Tags: #Sejarah Keraton Solo #Sejarah Solo